Short Story

Si Kancil Anak Nakal

Jakarta telah menunggunya, menunggu karya-karyanya. Mabe dan teman-teman satu timnya diundang oleh pemerintah kota Jakarta untuk menggarap graffiti di fly over Kebayoran dengan biaya pemerintah dan sponsor. Apalagi kalau bukan lahan bisnis pemerintah. Pemerintah menjual sebagian space itu untuk iklan, memberi logo-logo produk di dalam graffiti buatan mereka. Tidak murni independen ide seorang bomber (pembuat grafitti), tetapi mereka tidak mau ambil pusing dengan kebijakan itu. Mereka hanya berpikir tentang menghias kota Jakarta dan memberi pesan-pesan sosial dengan tema yang mereka usung.

Kebiasaan melukis di dinding awalnya merupakan kebiasan manusia primitif. Mereka menggambar kegiatan perburuan untuk membangkitkan semangat berburu. Lalu kebiasaan ini berkembang pada peradaban Mesir Kuno yang melukiskannya pada dinding-dinding piramida. Sedangkan di reruntuhan kota Pompeii pada zaman Romawi lukisan-lukisan di Pompeii merupakan sindiran terhadap pemerintah.

Graffiti dan para bombernya memiliki banyak motif dalam menggambarkan lukisan mereka di dinding. Ada yang merupakan bentuk penandaan daerah kekuasaan ada juga yang hanya merupakan usaha untuk mempopulerkan kelompok bomber mereka (tagging). Tetapi bomber Mabe merupakan bomber yang memiliki pesan sosial dan juga bentuk protes terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah seperti apa yang dilakukan pada zaman Romawi.

Tak jarang Mabe dikejar-kejar SATPOL-PP bukan karena lukisannya tanpa ijin tetapi karena graffitinya mengkomunikasikan ketidakadilan yang ada di dalam pemerintahan yang berkuasa saat ini. Mereka di tangkap dan seperti biasa mereka dipaksa mengakui kesalahan yang tidak mereka perbuat. Biasanya ada kelompok LSM yang membebaskan kelompok Mabe ini.

Mabe dan kawan-kawan telah berada di kereta api menuju stasiun Gambir, tetapi mereka belum puas dengan konsep yang mereka usung karena terlalu banyak intervensi dari pemerintah kota. Mandi dan masak dengan air bersih bukan salah satu hal yang relevan di kota ini. Penduduk kota Jakarta sangat sulit mencari air bersih tetapi mereka justru menganjurkannya.

“Be, kita harus mengubah konsep kita. Ini sangat tidak relevan dengan kondisi yang ada di sini. Kita menganjurkan apa yang tidak bisa mereka lakukan”, ungkap Aga seorang sarjana sosial.

“Tetapi jika kita mengubah konsep yang telah kita sepakati itu adalah bentuk pengkhianatan kita. Kita telah menandatangani perjanjian itu di atas materai. Di hadapan hukum kita telah melanggar perjanjian itu dan akan diadili lagi.”

“Tak hanya sekali kita keluar masuk tahanan kan? Demi rakyat kita pasti akan diselamatkan oleh orang-orang yang menganggap perbuatan kita baik.”

“Tapi apa tema sosial kita?”

“Korupsi! Kita sudah jengah dengan semua ini dan harus mengkomunikasikannya dalam graffiti kita. Ratusan media akan meliput kita sebagai pioneer bomber yang menjalin hubungan baik dan tunduk pada pemerintah. Lalu kita akan memberikan kejutan pada semua orang.”

“Tidak akan berhasil jika itu dilakukan tidak dalam satu malam. Progress kita akan diawasi jika matahari telah menjelang. Kita akan di tangkap sebelum graffiti kita selesai. Kita juga membutuhkan orang lebih dari ini. Apalagi proyek kita berada di fly over Kemayoran yang bisa dibilang sangat luas. Jika kita memiliki banyak pekerja kita bisa melakukannya”, kata Rian yang paling ahli dalam hal teknis di tim ini.

“Berapa yang kita butuhkan?”

“50 orang Be, satu kompi pasukan Brimob. Hahaha. Bisa diangkut dalam satu truk penuh. Pada hari pertama dan kedua kita menggarap background dan motif-motifnya, lalu gambar inti di hari terakhir dan dilakukan malam hari supaya tidak di awasi.”

“Darimana kita bisa mendapatkan orang sebanyak itu?”

“Jaringan”, jawab Larry yang paling supel dan memiiki kemampuan untuk melakukan negosiasi-negosiasi.

“Jaringan? Bomber lebih sering bermusuhan daripada berteman. Mereka berebut daerah kekuasaan dan popularitas. Mereka bersaing.”

“Lupakan tentang teori itu. Aku bisa menghancurkan budaya bomber yang dibawa dari Amerika itu. Aku akan mencoba mengaturnya dengan kontak-kontak yang ada.”

“Baiklah, kita sudah sampai di stasiun Gambir. Tentang konsep gambar kita bicarakan nanti di rumah pamanku. Rera, kau tahu apa tugasmu kan? Kau yang paling tahu tentang perumpaan. Kau orang gila dari ilmu filsafat”, kata Mabe dan yang lain pun tertawa menertawakan Rera.

Rera seorang yang paling aneh diantara mereka merupakan ahli membuat perumpamaan. Dia pintar memilih simbol-simbol yang bisa mewakili tema. Tetapi terkadang ilmu filsafat yang ia pelajari membuat apa yang dikatakannya susah untuk dimengerti teman-temannya.

Mereka lalu turun dari kereta untuk segera menuju ke rumah paman Mabe. Paman Mabe memiliki satu kamar yang cukup luas untuk mereka berlima tinggal. Di kamar, mereka semua sibuk dengan diri mereka sendiri. Sesekali mereka berkomunikasi tetapi itu mereka lakukan sambil mengerjakan kegiatannya masing-masing.

Aga dengan buku-buku pemberontakannya, Mabe dengan game GTA San Andreas, Rian dengan rincian anggaran untuk graffiti juga mencoba campuran warna-warna, Larry yang sedang menelepon teman-teman bombernya yang berada di Jakarta, dan satu hal yang paling aneh di antara mereka adalah Rera dengan buku dongeng si kancilnya.

“Rera, apa yang sedang kamu lakukan? Kamu membaca buku dongeng Si Kancil yang populer puluhan tahun yang lalu? Ini jaman film Walt Disney, Warner Bross, dan masih banyak lagi jutaan film yang lebih menarik ditonton daripada dongeng itu”, ujar Mabe sambil terus bermain game. Teman-teman yang lain berhenti dari pekerjaannya tertawa lalu kembali melanjutkannya.

“Benar sekali. Si Kancil pernah jadi artis imajinatif bagi kita semua yang hidup kurang lebih dua puluh tahun yang lalu. Tapi pernahkah kita tersadar Si Kancil masih berada di dalam otak kita dan mempengaruhi perilaku kita?”

“Apa maksudmu?” tanya Aga sambil datang mendekati Rera. Teman yang lain pun ikut menghentikan kegiatannya dan datang mendekati Rera. Ini bukan yang pertama terjadi. Rera selalu memulai penjelasannya mengenai konsep dengan cara aneh seperti ini.

“Pernah mendengar Kancil mencuri timun? Pernah mendengar Kancil membohongi Buaya? Pernah mendengar Macan juga di perdaya olehnya? Juga Monyet yang terlihat seperti idiot kehabisan pisang? Itu adalah cerita-cerita fantastis.”

“Jadi apa maksud pembicaraanmu?”

“Satu contoh. Monyet menemukan sebuah kebun pisang dengan buah yang sudah siap dipanen. Si Kancil melihat Monyet yang sedang makan pisang di atas pohon pisang. Kancil meminta pisang dari si Monyet tetapi ia tidak mau memberikannya. Lalu si Kancil menghina si Monyet. Monyet marah lalu ia melempar kulit pisang ke arah Kancil.

“Kancil dengan cerdiknya berkata, ‘kamu takkan bisa mengenaiku jika melempar menggunakan kulit pisang. Itu terlalu ringan, gunakan yang masih ada isinya.’ Monyet pun geram lalu melempar pisang-pisang itu ke arah Kancil. Akhirnya Monyet kehabisan pisang sedangkan Kancil mendapatkan banyak pisang yang tadi digunakan untuk melemparnya.

“Tak jarang pemerintah membodohi kita. Mereka menggunakan akal-akal mereka untuk merebut harta-harta kita. Mereka mengkorupsi bahkan merampas tanah kita yang kaya ini. Pemerintahan yang korup bisa kita lambangkan sebagai sebuah kawanan Kancil.

“Sejak kecil kita belajar dengan cara ‘keteladanan’ atau bisa dikatakan kita adalah plagiator-plagiator hebat sepanjang masa. Kita belajar berbicara dan melakukan apa saja dari prinsip keteladanan. Apa yang kita dengar dan kita lihat itu yang kita lakukan.

“Sepertinya jiwa Si Kancil masih berada di hati kita. Kita bersikap licik untuk kepentingan, kekayaan, dan keselamatan kita sendiri. Di dalam cerita Si Kancil dan Monyet, Kancil digambarkan sebagai binatang cerdas sedangkan Monyet adalah binatang bodoh. Ibu Guru berkata bahwa jadi orang jangan mudah dibodohi. Tetapi tak sadar sarannya merujuk pada opsi yang lain yaitu ‘membodohi’ dan kita pun memilihnya. Kita tak sadar bahwa kecerdasan itu harus didukung oleh hati yang bersih sehingga kita tidak membodohi orang untuk kepentingan kita sendiri.

“Dua puluh tahun yang lalu kita adalah embrio-embrio luciver dengan cerita –cerita yang dicekokkan kepada kita itu. Tetapi…”

“Kita masih memiliki sikap licik. Tetapi kelicikan kita itu untuk melawan orang yang telah membodohi kita. Kita akan mengkhianati pemerintah yang dengan kekuasaannya berusaha mengontrol pergerakan kita kaum-kaum pejuang komunikasi visual. Kurasa apa yang kita lakukan tetap ada benarnya”, potong Aga yang sangat bersemangat mengerjakan proyek ini.

“Biar kulanjutkan. Kita tetap berusaha menghindar dari sikap itu. Meski ternyata kita harus menjadi Kancil untuk melawan Si Kancil.”

“Jadi kita akan mengambil simbol kancil sebagai pemerintahan yang korup?” tanya Rian yang selalu berbicara kepada hal-hal yang teknis.

“Kita akan menggambar kancil sebagai embrio koruptor Indonesia. Selain mengkritik pemerintah kita juga berusaha membuat perubahan dengan mengubah dongeng-dongeng salah arah yang meracuni kita itu.”, Rera mengakhirinya dengan tersenyum sedangkan yang lain bergegas mencari pensil dan peralatan untuk membuat sebuah sketsa gambaran kancil sebagai pemerintahan korup dan keadaan rakyat yang memprihatinkan.

Desain-desain pun mulai diperbincangkan dan dipilih mana yang cocok. Masing-masing dari mereka memliki gaya tersendiri dalam menggambar tetapi tidak lepas dari tema kancil itu sendiri. Mereka menggambarkan yang terjadi pada dongeng lalu memperbandingkan dengan perilaku pemerintah saat ini.

Desain yang paling membuat bingung adalah desain Mabe. Dia adalah orang yang paling khawatir pada keselamatan anggota timnya, tetapi setelah teman-teman meyakinkannya dia menjadi menggila dan menjadi orang paling nekat di dunia.

Dia menggambar sebuah retakan tembok yang di dalamnya terdapat jeruji besi. Mabe juga menggambar sekawanan kancil di dalam gambar jeruji itu. Jika teman-teman yang lain sudah menyesuaikan dengan bentuk tiang yang berada di fly over Kemayoran, tetapi dia membuat gambar yang sama sekali tidak nyambung.

“Pertanyaannya, dimana kamu akan meletakkan desainmu itu?” tanya Rian.

“Gedung DPR.”

“Kamu sudah gila? Kapan kita mengeksekusi gambar itu?”

“Kita hanya merencanakan penggambaran di fly over. Biarkan itu dikerjakan kelompok lain. Kita akan ke gedung ini dan membuat yang terhebat dari antara yang terhebat. Supaya suara kita di dengar kita harus ke gedung perwakilan rakyat kan?”

Rian menggeleng-gelengkan kepala lalu menjulurkan tangannya diikuti yang lain.

“Semoga Si Kancil bukan makhluk yang kanibal yang bisa memakan kita. Untuk gambar yang mungkin menjadi gambar terakhir kita. Ha ha ha ha.”

“Untuk perjuangan dan suara kita.”

“Untuk para embrio manusia licik yang berada di dalam diri kita.”

“Untuk hati yang bersih jaringan bomber”

“Untuk kesenangan hidup yang takkan dirasakan orang lain ini”, kata Mabe mengakhiri ucapan persembahan mereka.

“Semangat!” ucap mereka bersama-sama.

Warna-warna cerah menjadi pilihan mereka agar bisa menarik perhatian orang yang melihat. Sesuatu yang menonjol merupakan sebuah daya tarik, tetapi jika tanpa diimbangi kualitas maka hal yang menonjol itu akan mengecewakan mata-mata yang telah ditarik olehnya. Mereka benar-benar memperhatikan detail setiap bagian dari sketsa mereka.

Sesekali Larry menelepon teman-teman bombernya untuk membuat janji. Mereka akan Larry kumpulkan di sebuah kafe Buana. Di tempat itu akan diadakan konsolidasi agar mereka semua bisa bekerja sama membuat mega proyek yang terbuka dan rahasia ini. Terbuka karena proyek ini dibiayai pemerintah dan diliput oleh cukup banyak media, tetapi rahasia karena ada pengkhianatan terhadap pemerintah.

Malam itu pukul sembilan di kafe Buana tempat bomber-bomber yang dikumpulkan oleh Larry terdengar gumaman-gumaman yang sangat tidak mengenakkan. Mereka berbicara tentang kelompok bomber rival mereka yang ternyata juga diundang di dalam pertemuan itu. Suasana bahkan tak pecah dan mencair meski Larry sudah memulai acara itu.

“Teman-teman sekalian mohon perhatiannya.”

Tak seorang pun sepertinya mendengarkan Larry. Mereka masih minum, makan, dan merokok tanpa menghiraukan Larry.

“Apa yang telah kita perbuat bagi bangsa ini? Hanya mencorat-coret dan mengotorinya?!” tanya sekaligus seru Rera. Kata-kata itu membuat semua yang ada di tempat itu terdiam.

“Kita semua bermusuhan antar kelompok hanya untuk mencari sesuatu yang hampa. Kita memamerkan karya-karya kita tanpa tahu jati diri bangsa. Kita memang boleh membawa apa yang sedang berkembang di luar negeri, tetapi kita tidak boleh lupa pada jati diri bangsa kita ini. Bangsa kita adalah bangsa yang sangat dikenal dengan semangat gotong royong dan tenggang rasa. Lalu kenapa kita tak mau menyediakan diri kita berbela rasa dan bekerjasama menyuarakan suara rakyat kepada pemerintah? Ini momentum yang tepat untuk menunjukkan kita bukan sampah.”

Beberapa dari mereka pergi karena tidak setuju. Mereka adalah orang-orang yang abstain dalam demokrasi. Ada yang mulai menanyakan program ini lalu mulai bermusyawarah untuk mencapai mufakat tentang konsep pemberontakan visual ini. Mereka adalah orang-orang yang paham demokrasi lebih dari hanya memahami votting yang penuh politisasi—memenangkan yang mayoritas dan menindas yang minoritas.

Akhirnya Larry dan kawan-kawan mendapatkan 55 orang yang bersedia berpartisipasi dalam proyek mereka. Itu lebih dari cukup dari yang mereka prediksikan sebelumnya. Kemampuan negosiasi dan membuka kesadaran orang yang dimiliki Larry dan Rera merupakan kombinasi yang paling baik untuk melakukan konsolidasi.

Seminggu setelah pertemuan itu mereka telah bersiap untuk eksekusi pemberontakan komunikasi visual yang mereka rencanakan itu.

“Ada email dari pemerintah kota. ‘Peralatan dan perlengkapan telah disiapkan, lokasi fly over juga telah dibersihkan dan dinetralisir dari gelandangan-gelandangan’ ini kata-kata yang menarik untukku”, baca Larry.

“Mereka ‘dianggap’ mengotori kota. Sebenarnya bukan mengotori kota tetapi mengotori wajah keberhasilan pemerintahan negeri ini. Jika orang-orang seperti mereka tidak diusir dari kolong fly over lalu pergi ke desa yang tak terlihat orang, maka citra pemerintah akan menjadi buruk. Peduli apa kita dengan citra? Sungguh sangat menggeramkan berhubungan dengan pemerintahan yang munafik”, sahut Aga.

“Mari bersemangat untuk hari ini. Kita akan melakukan apa yang kita inginkan dan ini sangat menyenangkan”, kata Mabe.

Pukul delapan mereka berkumpul bersama bomber-bomber lain di sebuah lapangan sepakbola yang sudah ditutup seng karena akan digunakan untuk pembangunan proyek supermarket. Mereka berjalan menuju lokasi bersama-sama, layaknya gank yang akan menyerang perkampungan warga. Tentunya aksi mereka menyita perhatian warga. Pertanyaan-pertanyaan muncul dalam kerumunan-kerumunan warga yang heran melihat aksi mereka.

“Kita seperti artis”, kata seorang bomber dari kelompok lain.

“Di dalam film kolosal, kita seperti orang yang hendak maju perang. Ha ha ha”, kata seorang yang lain di samping mereka.

Mereka telah tiba dilokasi dan segera menyebar untuk mengerjakan bagiannya masing-masing. Warna dasaran biru dilapiskan pada seluruh permukaan tembok jembatan. Mereka mengerjakan dengan sangat cepat namun tetap cermat. Kualitas cat nomor satu dipilih agar memang terlihat baik, meskipun mereka tahu mungkin gambar ini takkan lama bertahan.

Jam 5 sore dan semua sudah selesai di cat biru. Hari pertama dan kedua mereka tidak menggunakan lampu tambahan untuk melemburnya hingga malam karena tak ada yang perlu disembunyikan.

Seorang petugas menanyai mereka tentang konsep gambar yang belum terlihat dan lebih terkesan seperti ornamen-ornamen tanpa makna. Awalnya mereka kaget dan gugup, tetapi mereka bisa menjelaskan atau lebih tepatnya mengelak agar mereka terhindar dari pertanyaan lebih lanjut. Petugas yang memang memiliki tugas mengawasi proyek ini kemudian tak mau ambil pusing dengan penjelasan mereka lalu pergi bersama selingkuhan sekantornya dengan menggunakan mobil dinas plat merah.

Hari kedua malam itu mereka berkumpul bersama di kafe tempat mereka bertemu sebelumnya. Suasananya lebih hening dari sebelumnya, hanya terdengar pembicaraan-pembicaraan kecil. Cahaya yang tak begitu terang pun dihiasi kepulan asap-asap rokok dengan baranya juga beberapa cahaya yang terpancar di wajah karena pantulan ponsel dan laptop.

Semua keheningan pecah ketika Mabe dan Rera naik ke atas panggung. Hari itulah hari yang bagi mereka sangat mendebarkan, karena merupakan hari terakhir mungkin mereka hidup tenteram.

“Adakah yang sampai saat ini merasa keberatan atau tidak ikhlas melakukan pemberontakan komunikasi visual ini?” tanya Mabe. Namun tak seorang pun ada yang menjawabnya.

“Misi ini misi berbahaya yang mungkin akan menentukan nasib kita selanjutnya. Jika ada yang takut melakukannya, pulanglah. Kami takkan memaksa.”

Tak ada satupun orang yang beranjak dari tempat duduknya.

“Tetapi tahukah kita? Kita selama ini hidup dengan hobi dan kesenangan kita, tetapi tak pernah peduli pada orang-orang yang mungkin untuk bisa bernapas lega tanpa hutang aja sulit apalagi menghambur-hamburkan uangnya untuk hobi seperti kita. Oleh karena itu, inilah kesempatan kalian menjadi orang yang berharga, menjadi orang yang punya harga diri lebih dari hanya berebut kekuasaan atau popularitas. Marilah Bomber Jakarta bersatu melawan ketidakadilan!!!! Siapkah kalian merebut kembali harga diri seorang bomber?” Rera melengkapi.

Mereka yang berada di situ menjawab semangat dan suasana menjadi hiruk pikuk. Kepulan-kepulan asap mulai ditiupkan kembali. Mereka berteriak-teriak seakan tak pernah takut menghadapi nasib buruk yang akan mereka terima nanti sebentar lagi.

Pagi hari datang dan seperti hari sebelum-sebelumnya mereka datang ke lokasi dengan berjalan kaki. Masih juga menyita perhatian masyarakat, tetapi lebih ramai dari sebelumnya. Bahkan beberapa bocah mengikuti mereka berjalan menuju jembatan Kemayoran. Suasananya bagaikan karnaval memperingati hari kemerdekaan Indonesia atau ulang tahun Jakarta.

Sesampai di fly over, kelompok Mabe yang mencetuskan ide pemberontakan komunikasi visual ini ternyata justru tak tampak. Mereka berada di dekat gedung DPR untuk mempersiapkan hati mereka dalam melakukan puncak dari karya ini yaitu menggambar gedung DPR.

Sketsa telah tampak pada senja dan mereka tinggal melakukan finishing untuk karya di fly over. Mabe dan kawan-kawan mulai bergerak mengelabuhi penjaga yang sedang berjaga pada malam itu. Mereka membuat asap di sisi lain untuk mengalihkan perhatian para penjaga itu. Penjaga lengah dalam pengawasan lalu mereka segera lari masuk untuk memanjat puncak gedung DPR.

Mula-mula mereka membuat gambar retakan tembok sebesar 4×6 m. Sudah selesai gambar itu mereka membuat jeruji-jeruji yang cukup banyak yang menggambarkan sebuah penjara dan yang terakhir adalah kancil-kancil penghuni penjaranya.

Hampir tengah malam tetapi gambar di gedung DPR belum selesai. Hal ini dikarenakan cahaya yang memang kurang mencukupi untuk mereka menggambar. Selain itu dinginnya malam itu cukup mengganggu konsentrasi mereka.

Proyek di fly over Kemayoran yang lengkap dengan pesan-pesan sosial telah selesai. Sesuai rencana mereka diminta sementara mengungsi dari kota Jakarta supaya tidak ditangkap polisi yang kemungkinan akan mencari setelah mereka mendapat laporan. Mereka juga dilarang oleh Mabe untuk bergerombol dan berkumpul dalam waktu dua minggu. Seandainya mereka tertangkap, mereka harus mengaku bahwa mereka hanya dibayar dan tidak tahu menahu tentang pengkhianatan ini. Hal itu diminta Mabe demi keselamatan bomber-bomber yang telah berpartisipasi dalam pemberontakan komunikasi visual ini

Mereka semua telah berpencar ke daerah asal atau ke tempat saudara masing-masing. Bisa dibilang mereka telah 60 persen selamat. Namun lain halnya dengan yang dialami kelompok Mabe. Mereka yang baru menyelesaikan grafittinya pukul 4 pagi kepergok oleh dua orang penjaga. Berlari sekencang-kencangnya seperti kancil supaya tidak dapat tertangkap penjaga adalah satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan. Di dalam misi ini mereka memang dilarang melakukan kekerasan fisik. Oleh karena itu hanya menghindar lah jalan satu-satunya bagi mereka.

Mabe dan Rera menyediakan diri untuk menjadi umpan bagi para penjaga. Mereka semua berpencar namun hanya Mabe dan Rera yang dikejar. Rian, Larry, dan Aga bertemu di kafe Buana setelah pengejaran itu. Tetapi Mabe dan Rera yang masih dalam pengejaran itu semakin tak kuat lagi ketika kedua penjaga itu memanggil teman-temannya untuk membantu.

Mereka berdua tertangkap dan dimasukan di sel yang sangat tak layak. Mereka diinterogasi layaknya pencuri dan tak ada asas praduga tak bersalah sedikit pun. Mabe dan kawan-kawan dianggap seorang penyusup yang bisa disejajarkan dengan kasus teror.

Di luar sel banyak berita bergejolak mulai dari kemarahan pemerintah setempat yang merasa dikhianati, pencarian dan penangkapan ke 58 bomber lain yang melarikan diri, interpretasi dan pujian dari budayawan, koin untuk pembebasan Mabe dan Rera, demo-demo menuntut pemerintah membebaskan Mabe dan Rera, lagu dan puisi pembebasan Mabe dan Rera, bahkan sampai infotainmen pun tak ingin kalah mengambil topik itu.

Selain berita-berita, muncul juga tren unik memrotes pemerintah melalui grafitti. Di setiap di masing-masing daerah, yang memiliki bomber-bomber muda penuh bakat, fly over dan tembok-temboknya terdapat kritikan untuk pemerintah setempat. Bomber-bomber sudah mulai menyadari perannya di dalam masyarakat. Mereka memang pernah mengganggu namun kini mereka adalah pemberi semangat dan menjadi penggerak agar rakyat mau bicara.

Kemunculan kelompok Mabe menjadi titik tonggak baru arti bomber di Indonesia. Bukan soal tagging dan teknik-teknik dalam membuatnya namun lebih ke isu-isu sosial apa yang mereka angkat.

58 teman Mabe dan Rera tertangkap dan tetap diadili. Namun pada saat vonis dijatuhkan pada mereka, terjadi pemberontakan yang cukup besar di Indonesia. Mereka meminta pemerintah yang berkuasa saat ini pergi dari kursi kekuasaannya. Mereka jengah dengan kemunafikan dan ketidakjujuran pemerintahan ini.

5 Kancil cerdik bersama 55 Kancil terampil memperdaya ratusan kancil-kancil nakal pemegang kekuasaan di Indonesia. Mabe dan kawan-kawan cerdik untuk orang lain bukan untuk dirinya sendiri. Selain korupsi berhenti, Mabe dan kawan-kawan memiliki harapan agar cerita si Kancil dirubah menjadi dongeng-dongeng tentang toleransi, tenggang rasa, gotong royong, dan kemajemukan. Bukan dongeng yang menakut-nakuti kita agar tidak mudah dibodohi.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 253 pengikut lainnya.