Plesir Hemat: Pantai Indrayanti Keren
This slideshow requires JavaScript.
Pantai Baron, Kukup, dan teman pantai di sekitar mereka telah kita lalui. Akhirnya sampailah kami di Pantai Indrayanti dengan sedikit kabar buruk. Ban sepeda motor Ignatius Loyola Wahyu Nugroho a.k.a Nunug a.k.a Manug.
Kabar baiknya adalah kami menghemat waktu tempuh sekitar 30 menit dan tentu saja bahan bakar kami juga sedikit lebih hemat.
Kami langsung memilih gazebo untuk meletakkan barang-barang kami. Gazebo yang dibuat oleh pengelola memang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal. Karena belum ada pantai di DIY yang memiliki pelayanan ini.
Aku dan Thomas Bima Dita Megantara a.k.a Bembi langsung menyerbu sebuah karang tinggi tetapi datar. Kami memanjat tinggi karang itu dan melihat banyak kawanan kepiting di karang-karang di bawah kami. Nunug menyusul naik ke karang. Tetapi sayang Sang Fotografer Caecilia Wijayanti a.k.a Wiwit sedang sibuk dengan sunblock -nya sehingga kami tidak sempat berfoto di karang itu.
Banyak hal yang bisa kita lakukan di pantai Indrayanti. Mulai dari istirahat di gazebo, berenang, mencari kepiting dan ikan, snorkling, berjemur di tepian, mengambil gambar biota laut, minum dan makan es kelapa muda, dan yang istimewa adalah jetski. Itu jika anda beruntung dalam hal waktu.
Ada hal menarik dan membuat kami kecewa. Hehe. Di bulan puasa ini, ada turis mancanegara yang datang kemudian mandi dengan menggunakan bikini.
Gazebo kami terlalu jauh, dan kami sudah berhenti mandi. Kami hanya bisa menyaksikan dari jauh.hehehe.
Waktu kami di sana untuk berfoto-foto sudah terlalu lama. Saatnya membersihkan diri dan makan. Tetapi sebelumnya Nunug harus menambal ban. Saat Nunug menambal ban, saya dan Bembi menemukan sebuah pantai pribadi yang tak kalah indah. Pasir putih halus, landai, dan sebuah goa yang lumayan dalam adalah hal menarik di pantai Watulawang itu. Masih sangat sepi, cocok untuk berpacaran, tapi ingat berduaan itu berbahaya kata Titiek Puspa.
Setelah semua urusan selesai. Kami segera mencari makan. Kebetulan (atau tidak) ibu Bembi dan Oca memasak untuk kami. Kami pulang melalui jalur kota. Mampir di kios Bimo Garden dengan menu makanan yang luar biasa. Kata Dora,”Delicioso!”
Wah benar-benar Plesir Hemat. Hemat bensin, retribusi, dan makan. Bensin 10 ribu ditambah 5 ribu retribusi untuk berdua sudah cukup. Jadi rata-rata pengeluaran kami sekitar Rp 7500,00. Hemat bukan?
Kami pulang dan rasanya sangat ingin bagi kami untuk memamerkan foto kepada teman-teman yang tidak ikut.
Gracias buat teman-teman yang sudah menyukseskan acara ini. Next destination: wisata ke Goa Cermai. Bagi anggota yang ingin mengusulkan berwisata di sebuah tempat unik, silakan langsung posting di wall plesir hemat, atau message ke Oscar Anindita.
Bagi anggota yang berada di luar kota dan mungkin belum terlalu kenal dengan sesama anggota, tidak apa-apa. Anda tetap bisa mengusulkan tempat wisata. Jika kalian hendak ke Jogja, kami siap menemani anda. Terimakasih.
This slideshow requires JavaScript.
Plesir Hemat: Mukjizat
Pusat gempa yang terjadi pukul 18.41 WIB kemarin berada pada 8.03 LS – 110.39 BT. Gempa berkekuatan 5.0 SR itu berada di kedalaman 10 Km. Pusat gempa diketahui ada di wilayah 15 km tenggara Kabupaten Bantul.
“Kira-kira di kawasan Kecamatan Panggang hingga Purwosari Gunungkidul,” ungkap Kepala Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Budi Waluyo, Minggu (22/8/2010).
(sumber: http://www.detiknews.com/read/2010/08/22/193757/1425365/10/gempa-yogya-berasal-dari-patahan-baru)
Seperti kita tahu bahwa kami berangkat melewati Panggang dan juga Purwosari. Sungguh menjadi bencana jika kami pulang dengan jalur yang sama. Kami pulang dengan kecepatan cukup, bisa dibilang rata-rata 70 km/jam. Jadi jika sedikit saja guncangan mungkin kita bisa terperosok ke jurang.
Tetapi mungkin Tuhan menyelamatkan kami melalui Ibu Bembi dan Oca sehingga kami sudah makan enak tetapi selamat pula.
Namun cobaan tidak hanya sampai disitu. Di tengah perjalanan atau kira-kira sesampai kita di pasar buah giwangan, ada sebuah mobil terperosok karena ban mobil lepas. Untung kami selamat. Tidak terkena mobil maupun tidak terkena ban yang terpental keluar. Tetapi itu juga cukup mendebarkan karena kejadian ada di samping kami. Kembang api hasil gesekan as dengan aspal menjadi sebuah keindahan dalam sebuah bencana.. hehe. Sempat kami takjub karenanya. Akhirnya kami diselamatkan lagi.
Plesir Hemat: Perjalanan Panjang Menyenangkan
Tak seperti biasa, kami melalui jalur selatan (tidak lewat Jalan Wonosari). Kami lewat Panggang.
Baru sampai di dekat rumah dinas Bupati Bantul, kami sudah mendapat sebuah cobaan. Ban sepeda motor Nisia bocor. Akhirnya kami berhenti padahal 10% perjalanan saja belum kami lalui. Setelah selesai kami menambal ban, kami lanjutkan perjalanan.
Di tengah perjalanan, kami melihat banyak anak sekolah yang baru saja pulang. Anehnya, mereka punya semangat untuk bersekolah yang sangat tinggi. Saking tingginya, mereka rela duduk di atas bus untuk pulang sekolah. (*bagaimana dengan anda? Masih semangat?)
Kami mulai menyusuri pedesaan dengan sawah dan kebun yang masih hijau, dan jalan yang masih sepi. Kemudian kami juga menyusuri jalan yang amat sangat menanjak banget sekali. Memang butuh perjuangan ekstra bagi kendaraan kami. Kalau aku jadi kendaraannya, ogah ah lewat tanjakkan setinggi itu. Di sarankan bagi motor tua untuk tidak lewat jalan tersebut.
Penderitaan sepeda motor kami terbayar sudah oleh pemandangan alam yang indah dan udara yang masih segar dan dingin. Jelas saja karena kami telah mencapai dataran yang cukup tinggi. Bukit bintang masih kalah tingginya. Kami bisa melihat pedesaan yang hijau di bawah kami bukan perkotaan seperti di bukit bintang.
Kami ingin berhenti sejenak untuk mengambil gambar tetapi tampaknya waktu tidak setuju. Kami berangkat sudah terlalu siang. Kami lanjtukan perjalanan kami.
Kami mulai menyusuri daerah Panggang yang ternyata ada rental komputer berjarak 500 m dari jalan utama. Juga ada internet kecamatan. Jadi jangan remehkan orang sana. Banyak blogger terlahir di sana mungkin.
Lalu kami melewati jalan yang tampaknya masih baru di dekat Goa Maria Tritis. Jalan sangat besar tetapi masih sangat sepi. Benar-benar sangat menyenangkan melewati jalur ini. Tak perlu kami mendahului kendaraan lain. Karena hanya ada kami di sana. Tetapi untuk pulang malam, jalur ini tidak disarankan karena masih sangat sepi dan kurang penerangan jalan.
Kami sudah semakin dekat dengan pantai. Hal itu sangat terasa karena sesekali sepeda motor kami terbang terombang-ambingkan angin kencang. Ini bukan hiperbola, tetapi memang terjadi demikian. Angin sangat kencang. Disarankan kepada teman-teman yang bertubuh mungil, untuk tetap menjaga keseimbangan dan tetap berpegangan. Sangat dikhawatirkan jika teman-teman hilang tertiup angin. (*wkwkwk)
Kami sampai di retribusi seperti biasa kita bisa mendapat diskon masuk. Tetapi dengan catatan tidak meminta karcis. Kalaupun meminta pasti akan diberi sebagian dari karcis kami semua (kalau membayar bersama-sama). Misal 4 motor dan 7 penumpang anda akan hanya mendapat 1 karcis motor dan 4 karcis penumpang. Kami mendapat potongan 3 ribu rupiah untuk itu. Tak apalah, simbiosis mutualisme. Toh MUI juga belum mengharamkan pungli. Tapi nek korupsi udah je..(*Hahaha..just kidding)
Plesir Hemat: Menemukan Orang Lamis
Sabtu, 21 Agustus 2010 rombongan plesir hemat pergi ke pantai Indrayanti. Pantai pribadi ini menyajikan banyak keindahan. Mari kita ikuti petualangan seru Tim Plesir Hemat..
Berawal dari ajakan Yosef Anggladi Wicakso a.k.a Gege, kami mulai merencanakan perjalanan wisata Plesir Hemat yang ke-4. Awalnya Gege mengajak untuk berangkat pada tanggal 16 atau 17 Agustus 2010. Tetapi karena ada HUT kemerdekaan RI dan demi menghormati jasa pahlawan, kami pending niat kami untuk bersenang-senang.
Lalu kami mulai memikirkan tanggal yang tepat. Pada akhirnya kami memilih hari sabtu tanggal 21 Agustus 2010.
Beberapa anggota menyetujui dan menyatakan bisa ikut serta dalam perjalanan kami. Tetapi pada saat hari H banyak anggota yang membatalkan dan tidak bisa ikut serta. Dari alasan sekolah, KRS, Ospek, pelatihan, kerja, ga enak badan, karantina biar lulus, sudah 3x ke tempat yang sama dan masih banyak alasan lain.
Hal yang membuat terkejut juga adalah orang yang mengusulkan pertama kali justru tak ikut serta. (*pancen lamis kon iku.Bagi yang mengenal orang di bawah ini kalau ketemu boleh dijitak..wkwkwk)
Meskipun hanya bertujuh (sembilan kalo ditambah Oca dan Anna yang menyusul) kami tetap berangkat.